Latar dan Tujuan Kegiatan
Program Studi Magister Pendidikan Dasar IKIP Siliwangi melakukan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan topik “Penerapan Model Literasi Baca Tulis (LEARN-E) di Fase A di KKG Djulaeha Karmita, Cimahi” dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi akademik dalam mendukung peningkatan kompetensi guru sekolah dasar dalam membangun budaya literasi sejak dini. Fase A (kelas I–II SD) merupakan tahap krusial dalam pembentukan kemampuan dasar membaca dan menulis peserta didik. Lima orang dosen terlibat aktif dalam kegiatan ini yaitu Dr. Ryan Dwi Puspita, M.Pd., Dr. Galih Dani Septiyan Rahayu, M.Pd., Sylvia Rabbani, M.Pd., Martin Bernard, M.Pd. dan Faridillah Fahmi Nurfurqon, M.Pd. Kegiatan ini juga melibatkan dua orang mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Dasar. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi dengan CV. Hail Visual yang diwaliki oleh Bapak Arif Sunaryo.

Berdasarkan hasil identifikasi awal di KKG Djulaeha Karmita, ditemukan bahwa sebagian besar guru masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan kegiatan literasi secara sistematis dan kontekstual di kelas awal. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menerapkan model LEARN-E sebagai strategi inovatif dalam penguatan literasi baca tulis di lingkungan KKG.
Rancangan dan Tahapan Pelaksanaan
Pelibatan dosen dalam kegiatan ini sebanyak enam orang dengan bedang keahlian yang mumpuni dan relevan dengan perannya dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui empat tahap utama, yaitu (1) analisis kebutuhan dan perumusan strategi, (2) pelatihan dan pendampingan guru, (3) implementasi model di kelas, dan (4) evaluasi hasil penerapan. Pada tahap awal, tim pengabdi melakukan wawancara dan observasi terhadap guru anggota KKG untuk memetakan pemahaman mereka tentang literasi baca tulis dan tantangan yang dihadapi dalam praktik pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis tersebut, disusunlah modul pelatihan berbasis model LEARN-E yang menekankan keterpaduan antara kegiatan membaca aktif, eksplorasi makna teks, serta penguatan ekspresi tulis peserta didik.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara tatap muka di SD mitra dengan pendekatan workshop interaktif yang melibatkan praktik langsung, simulasi pembelajaran, dan diskusi reflektif antarguru.
Proses Implementasi Model LEARN-E
Pada tahap implementasi, guru-guru yang telah mengikuti pelatihan menerapkan model LEARN-E dalam pembelajaran literasi di kelas Fase A. Model ini meliputi lima langkah utama: (Link–Explore–Act–Reflect–Nurture-Expressive). Guru diarahkan untuk membimbing siswa membaca teks sederhana yang kontekstual, mendorong mereka mengajukan pertanyaan, menemukan makna, dan menuliskannya kembali dalam bentuk ekspresi kreatif, seperti jurnal mini atau catatan gambar. Tim pengabdian melakukan pendampingan langsung di kelas serta memberikan umpan balik terkait efektivitas strategi yang digunakan. Pendampingan ini membantu guru menyesuaikan model dengan kondisi nyata siswa yang beragam kemampuan dan gaya belajarnya. Adapun dokumentasinya di bawah ini.
Dampak dan Capaian terhadap Guru dan Peserta Didik
Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan guru dalam merancang pembelajaran literasi yang aktif dan menyenangkan. Berdasarkan instrumen evaluasi kinerja guru, 85% peserta menunjukkan peningkatan dalam aspek perencanaan dan pelaksanaan kegiatan literasi berbasis teks. Guru menjadi lebih kreatif dalam memilih bahan bacaan, serta mampu mengembangkan aktivitas menulis sederhana yang mendorong ekspresi siswa. Dari sisi peserta didik, hasil observasi dan portofolio menunjukkan peningkatan minat baca dan kemampuan menulis dasar, terutama dalam menyalin dan menyusun kalimat sederhana. Siswa juga menunjukkan antusiasme lebih tinggi dalam kegiatan membaca berpasangan dan menulis refleksi sederhana.
Hasil Evaluasi dan Refleksi Kegiatan
Evaluasi kegiatan dilakukan melalui instrumen kuesioner, wawancara mendalam, dan penilaian portofolio guru. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model LEARN-E dianggap relevan, aplikatif, dan mudah diadaptasi oleh guru untuk konteks pembelajaran di kelas awal. Sebagian besar guru menyatakan bahwa pendekatan ini membantu mereka membangun kegiatan literasi yang lebih bermakna dan terarah. Namun, ditemukan pula beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek kecil dan minimnya sumber bacaan kontekstual di sekolah. Tim pengabdi kemudian merekomendasikan perlunya pengembangan bank teks sederhana yang sesuai dengan konteks lokal, serta pelatihan lanjutan mengenai teknik asesmen literasi formatif.
Kesimpulan dan Tindak Lanjut
Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kompetensi guru KKG Djulaeha Karmita dalam menerapkan model literasi baca tulis yang inovatif dan aplikatif di Fase A. Model LEARN-E terbukti efektif dalam menumbuhkan keterampilan literasi guru sekaligus memberikan dampak positif terhadap peningkatan motivasi dan kemampuan literasi awal peserta didik. Sebagai tindak lanjut, KKG berkomitmen untuk menjadikan model LEARN-E sebagai bagian dari program rutin pengembangan profesional guru, serta membentuk komunitas belajar literasi yang fokus pada praktik reflektif dan publikasi hasil inovasi pembelajaran.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak jangka pendek berupa peningkatan kompetensi, tetapi juga membangun fondasi budaya literasi berkelanjutan di lingkungan KKG dan sekolah-sekolah lainnya.






Diskusi tentang ini post