Inatimes
  • Nasional
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Inatimes
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Home Pendidikan

Homeschooling Alternatif Pendidikan di Era Perundungan

M Azka Reporter M Azka
Oktober 8, 2022
di Katanya
3 min read
0

Oleh Sofhie Suhartini

Mahasiswa Magister S2 Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Siliwangi Bandung

 

Pernahkah Anda mendapati seorang pelajar yang mogok atau malas bersekolah? Dalam waktu yang bersamaan kehilangan konsentrasi dalam belajar, bahkan mereka terlihat Kehilangan kepercayaan diri dan  tidak jarang menarik dirinya dari lingkungan sekitar merasa cemas dan takut.

Tidak sedikit pula pelajar tersebut menunjukkan gejala stress dan seringkali menyalahkan atas kekurangan yang ada pada dirinya. Jika Anda menemukan gejala di atas kemungkinan mereka adalah pelajar korban perundungan atau yang lebih dikenal dengan istilah bullying.

Perundungan merupakan perilaku agresif atau negatif yang tidak menyenangkan dari seseorang atau sekelompok orang secara berulang kali dengan menyalahgunakan ketidakseimbangan kekuatan baik secara verbal, fisik,maupun non verbal.

Perundungan atau bullying rasanya telah menjadi fenomena yang kerap membudaya di masyarakat  dan melekat  di lingkungan Pendidikan.

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut  jumlah pengaduan korban perundungan di sekolah dari tahun 2016-2020 mencapai 480 kasus.

Menurut KPAI, perundungan ini  harus menjadi perhatian serius bagi banyak pihak dimulai dari lingkungan keluarga, orang tua, termasuk para pendidik di sekolah.

Komisioner KPAI, Jasa Putra menjelaskan, bahwa perilaku perundungan atau kekerasan begitu represif melekat pada kehidupan anak melalui berbagai media dan lingkungan sekitar, tentu perlu adanya kebutuhan pada setiap satuan Pendidikan membaca perkembangan psikologis dan kejiwaan setiap peserta didiknya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristik), Nadiem Makariem, menyoroti aksi perundungan di lingkungan sekolah harus segera dihapuskan.

Menurutnya, semua pihak yang terlibat dalam sistem pendidikan perlu mengambil garis yang keras , melakukan tindakan tegas, dan eradikasi  karena perundungan merupakan salah satu dosa besar dalam sistem Pendidikan.

Mengapa perundungan bisa membudaya di lingkungan sekolah?

Perundungan kerap terjadi karena adanya kesempatan. Hadirnya  peserta didik yang merasa dominan atau memiliki harga diri atau konsep diri yang tinggi di sekolah dan cenderung memiliki sifat agresif.

Hal ini muncul dikarenakan berbagai faktor pendorong di antaranya karena pengalaman atau pola asuh  keluarga yang tidak sesuai, kebutuhan akan kasih sayang dan spiritual yang tidak terpenuhi.

Minimnya pengawasan, rendahnya empati, dan  kepedulian sekolah terhadap perilaku peserta didiknya dapat pula menjadi penyebab terjadi perundungan.

Secara tidak langsung di lingkungan sekolah menjadi pendukung tumbuh suburnya premanisme hingga berujung perundungan dan kekerasaan.

Tentu hal ini sangat bertentangan dengan UU no.23 tahun 2002 pasal 54 bahwa anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan atau Lembaga Pendidikan lainnya.

 

Bagaimana peran homeschooling di era perundungan

Berbagai solusi ditawarkan dalam mengatasi perundungan khususnya di lingkungan sekolah.  Pertama,  mendeteksi tindakan perundungan sejak dini dengan menumbuhkan sikap peka terhadap kondisi psikologis peserta didik.

Kedua, memberikan sosialisasi terkait pemahaman dampak perundungan. Ketiga memberikan dukungan kepada korban perundungan dengan empati dan kepedulian menumbuhkan rasa kepercayaan terhadap lingkungan atau Lembaga pendidikan.

Keempat¸ membuat peraturan yang tegas  atau treatment efek jera bagi pelaku. Kelima, memberikan teladan dan contoh perilaku bagi peserta didik dalam hal sekecil apapun karena perundungan kerap terjadi karena mencontoh orang-orang di sekitarnya.

Keenam, menerapkan kepada peserta didik bahwa tindakan perundungan perlu adanya bentuk perlawanan namun bukan dalam bentuk kekerasan, melainkan berani melaporkan tindakan perundungan tersebut kepada pihak sekolah untuk selanjutnya dilakukan tindakan.

Ketujuh,  jika berbagai solusi dan treatment  telah dilakukan namun belum memberikan perubahan terutama dalam mengembalikan kepercayaan terhadap lingkungan sekolah maka salah satu alternatif menyikapi buruknya pengaruh perundungan ini adalah dengan Homeschooling atau sekolah rumah.

Homeschooling dapat  dijadikan salah satu alternatif agar terhindar dari dampak perundungan juga lingkungan buruk.

Pada dasarnya homeschooling atau sekolah rumah merupakan sebuah bentuk Pendidikan informal atau pendidikan keluarga di mana orang tua sebagai penentu utama sekaligus penyelenggara.

Dengan memilih homeschooling tugas Pendidikan dipegang keseluruhan secara mandiri oleh orang tua atau keluarga. Tentu tindakan perundungan akan minim terjadi sebab tidak lagi melibatkan lingkungan sekolah.

Masyarakat perlu menyadari bahwa lingkungan keluarga juga berperan penting dalam perkembangan Pendidikan dan psikologis anak. Orang tua dituntut  harus bekerja lebih keras daripada lingkungan sekolah dalam mendidik agar anak  tidak lagi terpapar dampak perundungan tersebut.

Orang tua tidak perlu khawatir sebab dalam Pendidikan homeschooling di dalamnya mengandung merdeka belajar, hal tersebut terlihat dari pendekatan pembelajarannya yang humanistik dengan pendekatan individual di mana proses pendidikannya melibatkan anak secara utuh.

Homeschooling memberi ruang yang seluas-luasnya kepada setiap individu untuk berkembang menjadi pribadi yang mandiri serta memiliki jati diri yang kuat.

Tentu hal ini sangat dibutuhkan bagi anak yang sedang menjalankan proses pemulihan terutama dampak psikologis dan traumatik akibat perundungan.

Hastag: IKIP Siliwangi Bandung
BagikanTweetKirim
Konten sebelumnya

Dosen Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Laksanakan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) di Bandung Barat

Konten selanjutnya

Membangun Karakter Anak melalui Komunikasi Spritual

M Azka

M Azka

Konten selanjutnya

Membangun Karakter Anak melalui Komunikasi Spritual

Diskusi tentang ini post

Terkini

Sekolah Rakyat Diresmikan di 34 Provinsi, Prof Achmad: Terobosan Atasi Kesenjangan Pendidikan di Indonesia

Januari 20, 2026
53

Isra Mi’raj dan Spirit Menjaga Sholat sebagai Fondasi Moral dan Ekologis

Januari 16, 2026
19
Jeje Ritchie Ismail Pastikan Perencanaan Anggaran Bandung Barat Tahun 2026 Sesuai Aturan

Kasus Super Flu di Bandung Barat Nihil, Jeje Imbau Warga Begini

Januari 14, 2026
9
Kualitas Sarana dan Prasarana Pendidikan di Bandung Barat Ditingkatkan

Kualitas Sarana dan Prasarana Pendidikan di Bandung Barat Ditingkatkan

Januari 14, 2026
8
  • Tentang
  • Beriklan
  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak
Iklan: +62 81313 7 4444 7

© 2021 inatimes

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Pariwisata
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
  • Katanya
    • Diari Uce
    • Tips
    • Pulis

© 2021 inatimes

Masuk ke akun

Lupa password? Daftarkan

Isi form untuk daftar

Semua isian wajib. Masuk

Kirimkan password anda

Mohon isi email atau username untuk mereset password

Masuk