JAKARTA,INATIMES- Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini menjadi fenomena global yang mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi.
Kehadiran teknologi seperti ChatGPT dan berbagai platform AI generatif telah mengubah cara mahasiswa belajar, mencari referensi, hingga menyusun tugas akademik dan skripsi.
Di tengah derasnya disrupsi teknologi tersebut, perguruan tinggi dinilai tidak boleh kehilangan peran utamanya sebagai pusat pembangunan karakter, etika, moralitas, dan integritas generasi muda.
Kampus tidak semata-mata berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai institusi yang membentuk nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial di tengah perubahan zaman.
Sebagai seorang Guru besar dan akademisi, Achmad Tjachja Nugraha, menilai bahwa perkembangan AI justru menjadi ujian besar bagi dunia pendidikan tinggi dalam menjaga identitas, kedalaman kualitas dan otoritas akademiknya.
“Kampus harus tetap menjadi pusat pengembangan karakter dan etika. Sebab kecerdasan buatan dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan moralitas, integritas, dan hati nurani,” ujarnya, Bandung, Kamis (14/5)
Menurutnya, AI memang membawa banyak manfaat dalam dunia pendidikan, mulai dari percepatan akses informasi hingga efisiensi pembelajaran.
Namun di sisi lain, muncul tantangan serius terkait kejujuran akademik, orisinalitas karya ilmiah, serta menurunnya budaya berpikir kritis akibat ketergantungan terhadap teknologi.
Fenomena penggunaan AI dalam penyusunan skripsi dan tugas akademik kini menjadi perhatian banyak universitas di berbagai negara.
Kampus menghadapi tantangan baru terkait plagiarisme, validitas karya ilmiah, hingga perubahan pola belajar mahasiswa.
Prof. Achmad sebagai dosen di Prodi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan bahwa solusi utama bukanlah dengan melarang penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi, melainkan membangun budaya akademik yang sehat, adaptif, dan berintegritas.
“Perguruan tinggi tidak boleh kalah oleh teknologi. Kampus harus memimpin arah perubahan dengan menanamkan etika penggunaan AI, membangun tanggung jawab akademik, dan memperkuat karakter mahasiswa,” katanya.
Ia juga menilai bahwa model pendidikan tinggi konvensional yang terlalu berorientasi pada hafalan dan administratif perlahan mulai kehilangan relevansi di era digital.
Ke depan, universitas harus lebih fokus membentuk kemampuan analitis, kreativitas, kepemimpinan, empati sosial, serta kemampuan menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.
Menurut Prof. Achmad, masa depan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan kampus menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah revolusi kecerdasan buatan global.
“Artificial Intelligence dapat membantu proses belajar manusia, tetapi kampus tetap memiliki tugas utama membentuk manusia yang beretika, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap peradaban,” tegasnya.





Diskusi tentang ini post