Inatimes
  • Nasional
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Inatimes
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Home Headline

Dari Indonesia ke Dunia Global, Raine Renaldi Akan Wakili Indonesia di EV Innovation Summit Amerika

M Azka Reporter M Azka
September 24, 2026
di Headline
3 min read
0

JAKARTA,INATIMES- Nama Indonesia kembali akan hadir dalam percakapan global mengenai masa depan kendaraan listrik.

Raine Renaldi, President EV-READY Group sekaligus Ketua Asosiasi Provider Smart City Indonesia (APSCI), dipastikan masuk dalam jajaran pembicara EV Innovation Summit (EVIS) America 2026.

Dalam pengumuman EVIS, Raine disebut sebagai salah satu pemimpin yang bergerak di bidang smart city development, sustainable mobility, dan digital transformation.

Melalui EV-READY Group, ia mengembangkan berbagai inisiatif mobilitas listrik, termasuk Metro Kapsul dan program konversi kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik.

Bagi Raine, kesempatan tersebut bukan sekadar undangan untuk berbicara di sebuah forum internasional.

Ia melihatnya sebagai kesempatan membawa pengalaman dan solusi yang sedang dikembangkan Indonesia ke tengah industri kendaraan listrik global.

“Ini sebuah kehormatan bagi kita semua. Bukan hanya bagi saya atau EV-READY, tetapi juga bagi Indonesia. Ini menjadi cerminan bahwa Indonesia juga mulai dilirik oleh global,” ujar Raine saat dikonfirmasi mengenai penunjukannya.

Salah satu agenda yang akan dibawa Raine ke EVIS America adalah isu yang saat ini menjadi bagian penting dari transformasi transportasi Indonesia: konversi sepeda motor konvensional menjadi kendaraan listrik.

Berbeda dengan pendekatan yang sepenuhnya mengandalkan penjualan kendaraan baru, EV-READY melalui EV-GO mengembangkan model elektrifikasi terhadap kendaraan yang sudah dimiliki masyarakat.

Model tersebut dinilai relevan bagi Indonesia karena transisi menuju kendaraan listrik harus mempertimbangkan kondisi kendaraan yang sudah beredar, kemampuan ekonomi masyarakat, kesiapan bengkel, ketersediaan baterai, serta infrastruktur pendukung.

Program EV-GO telah menjadikan Bali sebagai pilot project, dengan target ambisius mengonversi hingga 1 juta sepeda motor konvensional menjadi kendaraan listrik secara bertahap.

Menurut Raine, tantangan terbesar dalam konversi kendaraan bukan hanya menciptakan conversion kit. Infrastruktur pendukung menjadi bagian yang sama pentingnya.

Karena itu, EV-GO mengembangkan pendekatan end-to-end ecosystem, mulai dari fasilitas konversi, jaringan bengkel, teknologi baterai, battery swapping station, hingga sistem digital untuk mendukung kendaraan listrik.

Kebutuhan infrastruktur tersebut juga menjadi alasan EV-GO menempatkan Bali sebagai laboratorium implementasi.

Pada 2026, EV-GO mulai melakukan uji coba motor hasil konversi bersama komunitas pengemudi ojek online. Kelompok tersebut dipilih karena menggunakan kendaraan dengan intensitas tinggi, sehingga dapat memberikan data mengenai performa, efisiensi operasional, kebutuhan baterai dan kesiapan infrastruktur.

Dalam sejumlah materi dan publikasi terkait EV-GO, pembangunan infrastruktur baterai dan ekosistem pendukung disebut memiliki nilai lebih dari US$1 miliar, atau berada di kisaran Rp20 triliun jika menggunakan asumsi kurs sekitar Rp20.000 per dolar AS. Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan investasi apabila transformasi kendaraan dilakukan secara masif.

Namun, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai skala kebutuhan/pengembangan infrastruktur yang direncanakan, bukan berarti seluruh investasi Rp20 triliun tersebut telah direalisasikan.

Bagi Raine, Bali dipilih bukan hanya karena statusnya sebagai destinasi wisata dunia.

Pulau tersebut juga memiliki karakteristik yang membuat transformasi mobilitas dapat terlihat secara langsung: mobilitas masyarakat yang tinggi, industri pariwisata yang besar, dan kebutuhan untuk menjaga kualitas lingkungan.

Program tersebut kemudian diarahkan untuk menjadi model yang dapat direplikasi ke wilayah lain di Indonesia.

“Kita ingin Bali menjadi contoh bahwa transisi kendaraan listrik bisa dilakukan terhadap kendaraan yang sudah ada. Kalau ekosistemnya berhasil dibangun, model ini bisa direplikasi ke daerah lain,” kata Raine.

Menurut Raine, alasan lain EV-READY mendapat perhatian di forum global adalah karena perusahaan tidak memposisikan dirinya hanya sebagai perusahaan kendaraan listrik.

EV-READY mengembangkan portofolio yang mencakup transportasi publik listrik Metro Kapsul, EV-GO, teknologi konversi kendaraan, infrastruktur baterai hingga teknologi digital dan AI untuk mobilitas.

“EV-READY bukan hanya perusahaan EV. Kami melihat masa depan transportasi sebagai sebuah mobility solution. Ada public transportation, ada kendaraan pribadi, ada conversion, battery infrastructure, sampai teknologi digital dan AI,” ujar Raine.

Raine menilai pengalaman Indonesia memiliki nilai tersendiri bagi komunitas kendaraan listrik global. Negara maju dapat mengembangkan kendaraan listrik baru dengan ekosistem manufaktur yang sudah mapan.

Sementara Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda: bagaimana melakukan elektrifikasi terhadap kendaraan yang telah digunakan jutaan masyarakat. Di sinilah, menurut Raine, teknologi konversi dapat menjadi salah satu alternatif.

“Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi market. Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia juga bisa menghasilkan solusi yang relevan untuk negara lain,” ujarnya.

EVIS America 2026 dijadwalkan berlangsung di Toledo, Ohio, pada 3–5 November 2026, mempertemukan pelaku industri, inovator, investor dan pemimpin ekosistem kendaraan listrik.

Penunjukan Raine menempatkannya sebagai salah satu pembicara yang membawa perspektif Indonesia mengenai sustainable mobility, smart city dan elektrifikasi transportasi.

Bagi Raine, panggung tersebut bukan sekadar pencapaian personal. Ia ingin membawa satu pesan bahwa transformasi kendaraan listrik Indonesia memiliki karakteristik dan solusi yang dapat dipelajari oleh dunia.

Dari program konversi 1 juta motor di Bali, pembangunan ekosistem baterai berskala besar, hingga pengembangan transportasi publik listrik.

Indonesia mencoba membangun model transisi yang tidak hanya berbicara mengenai kendaraan baru, tetapi juga mengenai bagaimana kendaraan yang sudah ada dapat menjadi bagian dari masa depan mobilitas.

“Kita membawa Indonesia ke dunia. Bukan hanya membawa nama, tetapi membawa solusi. Harapannya, dari sini akan lahir lebih banyak kolaborasi teknologi dan investasi untuk mempercepat transisi energi Indonesia,” tutup Raine.

BagikanTweetKirim
Konten sebelumnya

Pertanian Kuat, Pangan Berdaulat: Lima Pilar hingga Swasembada Pangan

M Azka

M Azka

Diskusi tentang ini post

Terkini

Dari Indonesia ke Dunia Global, Raine Renaldi Akan Wakili Indonesia di EV Innovation Summit Amerika

September 24, 2026
2

Pertanian Kuat, Pangan Berdaulat: Lima Pilar hingga Swasembada Pangan

September 24, 2026
4

PT BMI Bangun Jalur Air dan Kolam Sedimentasi untuk Masyarakat Desa Cipatat

September 15, 2026
15

Prof Achmad Tjachja di Simposium KAHMI: Ketahanan Pangan Jadi Kunci Kedaulatan Bangsa

September 10, 2026
13
  • Tentang
  • Beriklan
  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak
Iklan: +62 81313 7 4444 7

© 2021 inatimes

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Pariwisata
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
  • Katanya
    • Diari Uce
    • Tips
    • Pulis

© 2021 inatimes

Masuk ke akun

Lupa password? Daftarkan

Isi form untuk daftar

Semua isian wajib. Masuk

Kirimkan password anda

Mohon isi email atau username untuk mereset password

Masuk