Inatimes
  • Nasional
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Inatimes
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Home Headline

Menikmati Bandung Lewat Narasi Kuliner Digital: Ketika Instagram Menjadi Etalase Budaya Sunda

M Azka Reporter M Azka
Juni 30, 2026
di Headline, Pariwisata
4 min read
0

Oleh: Rosaria Mita Amalia, Eva Tuckyta Sari Sujatna, Ekaning Krisnawati, Kasno Pamungkas (Team Peneliti Academic Leadership Grant, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)

Di era digital, promosi pariwisata tidak lagi hanya mengandalkan brosur, baliho, atau iklan televisi. Hari ini, keputusan seseorang untuk berkunjung ke sebuah destinasi wisata sering kali dimulai dari satu hal sederhana: unggahan di media sosial.

Foto yang menggugah selera, video singkat, dan kalimat yang menarik mampu mengubah rasa penasaran menjadi keinginan untuk datang langsung. Bandung merupakan salah satu kota yang berhasil memanfaatkan transformasi digital tersebut. Melalui akun Instagram resmi @disbudpar.bdg serta berbagai informasi yang tersedia pada kanal digital Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai destinasi wisata, agenda budaya, ruang kreatif, hingga kekayaan kuliner khas Sunda yang menjadi identitas kota.

Kehadiran media digital ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi instrumen pembentukan citra (city branding) Bandung sebagai kota kreatif yang kaya akan budaya dan pengalaman kuliner.

Perspektif inilah yang menjadi titik tolak penelitian yang menghubungkan peran Linguistik  (ilmu bahasa) dalam bidang pariwisata sehingga menghasilkan salah satu luaran artikel  berjudul “Savoring Sundanese Food: A Discourse Analysis of Instagram’s Powerful Promotion of Bandung’s Culture and Culinary” yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Studies in English Language and Education pada tahun 2024 (https://jurnal.usk.ac.id/SiELE/article/view/29716) .

Penelitian tersebut merupakan salah satu luaran Tim Academic Leadership Grant (ALG), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran yang mengembangkan kajian linguistik, budaya, dan pariwisata berbasis media digital.

Penelitian tersebut mengkaji bagaimana akun Instagram resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung @disbudpar mempromosikan kuliner Sunda sebagai bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata. Tim peneliti menganalisis 642 unggahan Instagram, kemudian memfokuskan kajian pada 86 unggahan mengenai makanan dan minuman tradisional Sunda yang dipublikasikan sepanjang tahun 2022. Dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis dari Teun A. van Dijk (1987), penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan promosi digital tidak hanya terletak pada visual makanan yang menarik, tetapi juga pada pilihan bahasa (language style) yang digunakan dalam setiap unggahan.

Temuan penelitian memperlihatkan bahwa narasi promosi kuliner Bandung dibangun melalui berbagai strategi bahasa. Kalimat tanya seperti “Kalau dingin-dingin gini, kamu tim mana, Wargi?” atau “Mau seblak apa saja nih yang ingin Wargi pesan?” bukan sekadar pertanyaan biasa. Kalimat tersebut mengajak audiens berinteraksi, membangun kedekatan emosional, sekaligus menciptakan rasa ingin mencoba. Sementara itu, pilihan penggunaan kata-kata  (lexical choices) seperti lezat, legendaris, hangat, khas Bandung, surga kuliner, hingga kuliner favorit memperkuat citra positif kuliner Sunda di benak calon wisatawan.

Kuliner bukan sekadar pelengkap pariwisata, melainkan pintu masuk yang efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas. Ketika seseorang mencari informasi mengenai batagor, seblak, bajigur, peuyeum, nasi timbel, atau restoran legendaris di Bandung, sesungguhnya ia juga sedang diperkenalkan pada nilai-nilai budaya Sunda yang melekat pada makanan tersebut (Amalia, 2021).

Hal ini sejalan dengan visi pengembangan pariwisata kota Bandung yang menempatkan budaya sebagai fondasi utama destinasi wisata. Melalui kanal digital resmi webiste Disbudpar Kota Bandung https://www.disbudpar.bandung.go.id/ dan akun media sosial Instagram @disbudpar.bdg,masyarakat tidak hanya memperoleh rekomendasi tempat makan, tetapi juga informasi mengenai festival budaya, pertunjukan seni, museum, bangunan bersejarah, desa wisata, ruang kreatif, hingga berbagai agenda wisata yang dapat dinikmati sepanjang tahun. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa promosi pariwisata modern tidak lagi memisahkan antara budaya, kuliner, dan pengalaman wisata, melainkan mengemasnya sebagai satu kesatuan cerita yang menarik untuk dinikmati wisatawan (Mocini, 2005).

Bagi dunia akademik, penelitian ini memberikan pesan penting bahwa media sosial layak dipandang sebagai objek kajian ilmiah yang serius. Bahasa yang digunakan dalam media digital mampu membentuk persepsi publik, memengaruhi keputusan wisatawan, sekaligus memperkuat identitas suatu daerah. Kajian linguistik tidak lagi hanya berbicara mengenai struktur bahasa, tetapi juga mengenai bagaimana bahasa bekerja sebagai alat promosi, persuasi, dan diplomasi budaya. Di sisi lain, hasil penelitian ini juga memberikan rekomendasi praktis bagi pemerintah daerah. Pengelolaan media sosial pariwisata sebaiknya tidak hanya berorientasi pada frekuensi unggahan, tetapi juga memperhatikan kualitas narasi, pilihan diksi, kedekatan emosional dengan audiens, serta konsistensi dalam membangun identitas daerah. Konten yang komunikatif, informatif, dan interaktif terbukti mampu meningkatkan minat masyarakat untuk mengenal bahkan mengunjungi destinasi wisata yang dipromosikan.

Pada akhirnya, kekuatan pariwisata kota Bandung bukan hanya terletak pada keindahan alam, bangunan bersejarah, atau kreativitas warganya, namun Bandung juga memiliki kekayaan kuliner yang menyimpan cerita, sejarah, dan identitas budaya yang kuat. Ketika cerita-cerita tersebut dikemas secara menarik melalui media digital, promosi pariwisata tidak lagi sekadar mengajak orang datang, tetapi juga mengajak mereka memahami dan menghargai budaya Sunda sebagai bagian dari kekayaan Indonesia. Melalui penelitian ini,  Tim Academic Leadership Grant Universitas, Fakultas Ilmu Budaya Padjadjaran ini, membuktikan bahwa satu unggahan di Instagram dapat menjadi lebih dari sekadar foto makanan, Ia dapat menjadi jendela yang mempertemukan wisatawan dengan budaya lokal, menghubungkan tradisi dengan teknologi, serta memperlihatkan bahwa bahasa memiliki peran strategis dalam membangun masa depan pariwisata Indonesia.

BagikanTweetKirim
Konten sebelumnya

Prof. Achmad Terima Brevet Kehormatan Penerbang, Dorong Kolaborasi Riset Kemajuan Puspenerbal

M Azka

M Azka

Diskusi tentang ini post

Terkini

Menikmati Bandung Lewat Narasi Kuliner Digital: Ketika Instagram Menjadi Etalase Budaya Sunda

Juni 30, 2026
25

Prof. Achmad Terima Brevet Kehormatan Penerbang, Dorong Kolaborasi Riset Kemajuan Puspenerbal

Juni 17, 2026
51

Peringati Tahun Baru Islam 1448 H, Prof Achmad Tekankan Pentingnya Persatuan dan Integritas

Juni 16, 2026
35

Fasilitas Konversi Motor Listrik Baru Memenuhi 1% Kebutuhan Nasional, EV-GO Siapkan Percepatan

Juni 4, 2026
71
  • Tentang
  • Beriklan
  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak
Iklan: +62 81313 7 4444 7

© 2021 inatimes

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Pariwisata
  • Olahraga
    • Indonesia
    • Dunia
  • Katanya
    • Diari Uce
    • Tips
    • Pulis

© 2021 inatimes

Masuk ke akun

Lupa password? Daftarkan

Isi form untuk daftar

Semua isian wajib. Masuk

Kirimkan password anda

Mohon isi email atau username untuk mereset password

Masuk